Head Line

Senin, 19 Maret 2012

HARGA BBM MELAMBUNG DI PERBATASAN

Cangkau Melewati Jalan Berpasir
 Oleh : J. Ipunk W.

Rencana pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2012 membuat berbagai reaksi dari masyarakat pun bermunculan,.Antrian BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum ( SPBU ) mengular hingga beberapa kilometer.Untuk mendapatkan beberapa liter BBM, warga harus rela mengantri berjam – jam.BBM langka dimana – mana, SPBU yang memasang papan bertuliskan “BENSIN / SOLAR HABIS” menjadi pemandangan biasa.Mahasiswa turun ke jalan melakukan demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM.Aksi demonstrasi terjadi hampir di seluruh kota di Indonesia, bukan hanya mahasiswa saja yang berdemonstrasi, tetapi berbagai lapisan elemen masyarakat lain pun ikut turun ke jalan, diantaranya adalah para supir angkutan umum yang resah karena harus menaikkan ongkos penumpang bila BBM jadi dinaikkan harganya oleh pemerintah.Ini dapat berakibat buruk pada pendapatan mereka.Bagi yang punya banyak modal mereka sibuk menimbun BBM agar mendapatkan banyak keuntungan.Sementara Polisi gencar melakukan razia dan pemeriksaan terhadap SPBU nakal dan tak jarang mereka menangkap para pembeli BBM yang menggunakan drum atau jeriken, penjagaan di areal SPBU pun dilakukan selama 24 jam penuh untuk memastikan distribusi BBM ke masyarakat berjalan lancar dan tidak ada kecurangan.Para pengecer di kios – kios kaki lima kesulitan mendapatkan pasokan BBM karena tidak lagi diperbolehkan membeli BBM ke SPBU menggunakan jeriken.


Itulah gambaran yang dapat kita saksikan setiap kali pemerintah berencana menaikkan harga BBM.Cerita yang selalu menjadi headline berita baik di media cetak maupun media elektronik.Namun, satu hal yang sering luput dari perhatian media adalah tentang nasib BBM di perbatasan negara yang jauh terpencil.Bila di kota saja yang terjadi seperti itu, bagaimana dengan di daerah – daerah pelosok perbatasan negeri ?


Sangat miris memang.Saat krisis BBM seperti sekarang ini,warga perbatasan hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang ada.Memang tidak ada antrian di SPBU yang mengular seperti di kota – kota, karena memang tidak ada SPBU.Mereka tak dapat melakukan aksi demonstrasi seperti yang dilakukan mahasiswa, walaumereka berdemonstrasi sampai mati pun siapa yang akan mendengar ? Mereka tidak mungkin melakukan penimbunan BBM karena tidak punya modal.Untuk keperluan BBM harian saja sudah sangat sulit didapat.Kalaupun ada harganya sudah lebih dulu melambung jauh sebelum pemerintah menetapkan harga baru.

Di Desa Temajuk Kecamatan Paloh,Kabupaten Sambas, harga BBM yang harus dibayar oleh masyarakat setempat sekarang sudah lebih tinggi dari rencana kenaikan harga yang akan ditetapkan pemerintah.Untuk bensin misalnya, pemerintah berencana menaikkan harganya dari Rp 4.500,00 menjadi Rp 6.000,00 / per liternya.Namun,sebelum harga baru ditetapkan,  masyarakat disini sudah harus membayar sebesar Rp 7.500,00 / per liternya setiap membeli bensin.Hal ini tentu sangat memberatkan bagi masyarakat yang pekerjaan mereka rata – rata adalah petani dan nelayan yang pendapatannya pas – pas-an.Padahal selain sebagai bahan bakar sepeda motor, bensin juga mereka perlukan untuk menghidupkan mesin genset sebagai alternatif pengganti listrik yang belum tersedia di desa ini.Nelayan pun perlu bensin untuk mengoperasikan perahu motor mereka.

Kenaikan harga ini disebabkan sedikitnya pasokan BBM yang tersedia di desa.Bagi warga sekitar, untuk memperoleh BBM sangatlah sulit.Tidak ada SPBU di Kecamatan Paloh.SPBU terdekat hanya ada di kecamatan tetangga, yaitu Kecamatan Teluk Keramat, tetapi SPBU yang ada itu pun sepertinya hanya aksesoris belaka dan sangat jarang beroperasi karena jarang mendapatkan pasokan BBM dari Pertamina.Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan BBM di Desa Temajuk,bahkan untuk seluruh Kecamatan Paloh, BBM harus dibeli di ibukota Kabupaten,Sambas, yang jaraknya mencapai 70-an Km.Biasanya pembelian BBM untuk pasokan desa dilakukan oleh para Cangkau (demikian mereka biasa menyebutnya).Para Cangkau ini membeli BBM ke Sambas dengan menggunakan jeriken yang di bawa dengan menggunakan sepeda motor.Dengan satu sepeda motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, mereka dapat mengangkut hingga 8 buah jeriken berkapasitas 30 liter.Dapat dibayangkan betapa berat beban yang harus mereka bawa dengan menggunakan sepeda motor melewati jarak puluhan kilometer dan kondisi jalan yang rusak.Jadi, adalah hal yang wajar jika harga BBM yang mereka jual jauh lebih mahal daripada harga normal.


Keadaan menjadi lebih sulit bila terjadi kelangkaan BBM seperti sekarang ini.Pembelian dengan jeriken tidak diperbolehkan lagi.Para Cangkau harus memutar otak agar mereka tetap bisa mendapatkan BBM untuk di jual di desa.Bebagai cara pun ditempuh,salah satunya dengan mengisi BBM di SPBU dengan menggunakan mobil ( bagi yang memiliki mobil ) dan setelahnya BBM disedot dengan selang dan ditampung di jeriken.Ini dilakukan berulang kali,meskipun berarti harus mengantri berulang kali.Bagi yang tidak punya mobil terpaksa harus membeli dengan menggunakan sepeda motor.Namun tentunya memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak.BBM yang berhasil dibawa pulang pun tidak seberapa jumlahnya.Keadaan ini membuat pasokan BBM yang tersedia di Desa Temajuk sangat minim.Karena itulah harganya sangat mahal.Warga juga harus berlomba untuk membeli BBM, karena bila terlambat maka bisa jadi sepeda motor dan genset mereka tidak dapat menyala dan bagi nelayan yang tidak kebagian hanya bisa gigit jari karena tidak dapat melaut.


Tidak dapat dibayangkan bagaimana nanti seandainya harga BBM diputuskan naik oleh pemerintah.Warga Desa Temajuk tentu harus bekerja lebih keras untuk bisa menyesuaikan daya beli mereka terhadap harga BBM di desa mereka yang tentunya akan ikut melambung naik.Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah akan terjadinya kenaikan harga barang – barang kebutuhan pokok.Karena kenaikan harga BBM bisa menjadi lokomotif kenaikan harga barang lainnya.Masyarakatlah yang akan menjadi korban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar